Bertempat di Surya Room, Surya Yudha Sport Center Banjarnegara, Selasa – 6 April 2021 Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara mengadakan “Pertemuan Koordinasi Surveilans Migrasi dalam rangka Eliminasi Malaria Tahun 2022 di Kabupaten Banjarnegara” dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara dr. Latifa Hesti Purwaningtyas, M.Kes., adapun Narasumber berasal dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa tengah dan Balkesmas Wilayah Ambarawa.

Dalam sambutannya dr. Latifa Hesti M.Kes, menyampaian bahwa agar berjalan efektif, kegiatan surveilans harus dituangkan dalam aturan tertulis yang menjadi kesepakatan bersama, yang mengikat bagi para pelaku mobilisasi dari/ke luar daerah. Surveilans migrasi merupakan salah satu elemen dalam Self Assesment, penilaian yang harus dilengkapi dari tingkat kabupaten, Puskesmas, hingga ke desa, yang harus mulai dikerjakan dari Sekarang dan akan menentukan layak tidaknya Kabupaten Banjarnegara dinyatakan sebagai daerah yang mampu eliminasi malaria pada tahun 2022.

Hadir dalam kegiatan dari jajaran Dinas Kesehatan dan pimpinan 35 Puskesmas se kabupaten Banjarnegara serta lintas sektor terkait yaitu: Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kelas I Banjarnegara, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan, Badan Pengelolaan Pendapatan dan Aset Daerah, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dispermasdes PPKB) dan Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Banjarnegara.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia, berpengaruh terhadap angka kematian dan kesakitan bayi, anak balita dan ibu hamil serta dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja. Atas dasar pertimbangan tersebut, malaria masih menjadi prioritas bukan hanya di tingkat daerah dan regional, tetapi juga di tingkat nasional maupun global. Sejak akhir 2019 di Banjarnegara tidak ditemukan kasus indegeneous (kasus lokal) sedang kasus impor masih ditemukan, tahun 2020 ditemukan 4 kasus impor diwilayah kerja Puskesmas Purwonegoro 1 satu kasus, Rakit 2 satu kasus dan Pagentan 2 dua kasus.

Mobilitas penduduk  yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya malaria terutama kasus import, dimana masyarakat yang berkunjung dari  daerah  endemis  malaria   lainnya   dapat   menjadi  sumber penularan. Sebagai antisipasinya, diperlukan surveilans migrasi yang efektif guna menemukan sedini mungkin dan mengantisipasi masuknya pembawa parasit dari luar, sehingga tidak terjadi penularan lanjut. Surveilans migrasi adalah cara menemukan penderita malaria di masyarakat, yaitu kegiatan pengambilan sediaan darah masyarakat yang datang dan pergi dari daerah endemis.

Kemajuan program penanganan malaria di Indonesia dapat dilihat dari semakin banyaknya jumlah kabupaten/kota yang mencapai eliminasi malaria. Sampai dengan Akhir Tahun 2020 sebanyak 318 Kabupaten/Kota telah mencapai eliminasi malaria (80% penduduk). Angka kesakitan malaria berdasarkan Annual Paracite Incidence (API) di Indonesia dari tahun 2009 sampai 2019 menurun yaitu 1,85 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus sebanyak 418.439, pada tahun 2009 menjadi 0,93 dengan jumlah kasus sebanyak 250.644 pada tahun 2019.

Eliminasi malaria dicapai secara bertahap mulai dari tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, Regional dan Nasional, dengan target verifikasi regional Tahun 2023 di Jawa-Bali. Sampai Tahun 2020 masih terdapat 7 Kabupaten/Kota di Regional Jawa-Bali yang belum mencapai eliminasi malaria yaitu di  Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Purworejo dan Banjarnegara, Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang dan Lebak, Provinsi DI Yogyakarta Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Jawa Barat  Kabupaten Pengandaran dan Sukabumi. Road map eliminasi di Kabupaten Banjarnegara telah ditindaklanjuti dengan Peraturan Bupati Banjarnegara Nomor 29 tahun 2019 tentang Eliminasi Malaria Di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2022.

Eliminasi malaria bukan semata-mata minimal 3 tahun berturut-turut tidak ditemukan kasus, ELIMINASI MALARIA adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi tertentu, harus didukung dengan data, upaya dan sistem yang baik untuk mengendalikan vektor dan memastikan tidak terjadi penularan lanjutan, membutuhkan koordinasi, kesiapan dan dukungan menyeluruh, terpadu, bertahap melalui kerja sama semua pihak. dengan semakin banyak yang tahu, paham dan kenal dengan kesiapan dan dokumen yang diperlukan saling membantu dan melengkapi, semakin cepat terpenuhi dan tercapai target eliminasi. Pertemuan koordinasi ditutup oleh Sekretaris Dinas Kesehatan, menghasilkan kesepakatan diantaranya dengan target eleminasi pada bulan April 2022, kemungkinan dicanangkan pada Hari Malaria Sedunia, 25 April 2022, perlu semua pihak merapatkan barisan, memperkokoh kebersamaan dan optimis Eliminasi Malaria di Banjarnegara Tahun 2022 Yakin Tercapai.